tak terasa waktu begitu cepat berlalu, kayaknya baru kemaren menikmati masa2 indah bermain dan bercengkrama dg tmn2 kecilku, trus asyiknya masa2 sekolah, akhirnya aku terdampar di sebuah kota dipinggiran jakarta.” CIBINONG”, yah! melihat kondisi keluarga yg serba terbatas dan melihat raut wajah ibu yg semakin banyak dihiasi keriput, dg tubuh yg semakin merenta dan tiap hari menjelang subuh harus sudah bgn mempersiapkan dagangannya, dan berangkat kepasar untuk menjajakan dagangannya, setiap hari sejak aku masih dibangku kelas 6 SD. Terbersit selalu dibenak ini, kapan…..aku bisa membahagiakannya. Aku bulatkan tekad..! ya! aku harus melakukan sesuatu, ma’! aku mau merantau ke Jakarta! Aku arep golek duit kanggo nyenengke sampeyan. kata itu yg kuucapkan saat itu.
26 Oktober 1999 kujejakkan kaki ini di kota Cileungsi, memenuhi panggilan sebuah perusahaan painting. pengalaman pertama di perantauan, hm… agak canggung sekaligus bingung nyari nomer angkot yg mau di naikin menuju alamat kakak.akhirnya dpt juga dg modal bertanya sana- sini akhirnya nyampe jg ketempat yg dituju.
Hari itu jg aku memenuhi panggilan kerja, ikut tes dan hasilnya aku diterima bekerja. Alhamdulillah disitulah aku memulai perjalanan dalam rangka menjemput rizki ALLAH SWT. Dari hasil bekerja di perusahaan tersebut aku bisa bertahan dan sedikit membantu meringankan biaya sekolah kedua adikku, sampai suatu hari datanglah masa dimana skenario lain dari Allah harus kulakoni, aku diberhentikan dari pekerjaanku karena sebab yg tdk aku ketahui sebabnya, padahal sebentar lg kedua adikku membutuhkan biaya yg ckp besar yg satu masuk SMU dan yg satu lg masuk SMP,ya sudahlah aku hanya bisa berserah diri pd Allah kuanggap ini bagian dari skenario Nya untukku.
Namun ada yg mengganjal dlm hati ini, aku nggak mau ibuku tau kalau aku sdh tdk bekerja lagi, dg berat hati kusembunyikan perrstiwa itu dari keluargaku spy tdk smp telinga ibuku dan jg sampai mengendurkan semangat adik”ku untuk melanjutkan sekolah,akhirnya uang pesangon dari perusahaan kuberikan semua kpd ibuku untuk biaya kedua adikku, hanya kusisakan beberapa ratus ribu untuk bekal kembali ke bogor melanjutkan skenario yg telah kubuat sendiri.
Hari demi hari, minggu demi minggu bulan demi bulan, tahunpun ikut terlewati tanpa ada satupun yg dapat kucapai sesuai harapan dan cita2ku, ya..! cita2 untuk menjadi sukses seperti harapan orang tuaku. to be continued.
Juli 12, 2008 pukul 9:31 am |
semanat akhi
Agustus 12, 2008 pukul 6:44 pm |
ho ko tulisannya bener bener bersambung gak ada ujung?